Konstelasi

Edisi ke-4 Oktober 2007

Mencari Jalan Keluar Krisis Energi

Pada bulan Oktober 2005, pemerintahan SBY menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) sampai sebesar 75-90 persen. Reaksi keras muncul dari publik menentang kebijakan itu, karena dianggap akan membawa kesulitan ekonomi bagi rakyat kebanyakan. Namun, sekalipun kecil, ada yang mendukung kenaikan harga BBM dengan mendasarkan argumen mereka pada rasionalitas ekonomi dan mekanisme pasar, yaitu mengalihkan dana subsidi untuk menjalankan program-program pemerintah di bidang-bidang lainnya. Kebijakan ini yang oleh banyak pihak dianggap menolong Indonesia saat harga minyak dunia mengalami kenaikan semenjak bulan Oktober 2007, sehingga pemerintah tidak perlu menaikkan harga BBM di dalam negeri.

Dicari: Raja Minyak Nabati

Kenaikan harga minyak yang mencapai USD90/barel kembali memaksa masyarakat dunia untuk berpaling ke energi alternatif. Efek samping bagi lingkungan, sifatnya sebagai sumber energi yang tidak terbarukan (non-renewable), serta harganya yang terus menanjak dan fluktuatif dari penggunaan bahan bakar minyak (yang bersumber dari fosil, seperti minyak bumi dan batubara), telah mendorong manusia untuk mencari sumber energi baru yang lebih sustainable.

Jalan Berliku Pengembangan BBM Nabati

Harga minyak mentah (crude oil) dunia kembali melambung. Dalam perkembangan selama satu bulan terakhir ini, harganya bahkan sudah mampu menembus angka USD 90/barel. Menurut perkiraan para pengamat minyak, bukan tidak mungkin dalam jangka pendek mendatang harga itu akan terus meningkat hingga USD 100/barel. Kalau itu yang terjadi, bisa dibayangkan apa akibatnya bagi Indonesia.

Memilih Nuklir Bagi Kemajuan Indonesia

Perlu atau tidaknya Indonesia melangkah lebih lanjut dalam bidang kenukliran selalu menjadi debat yang mengundang banyak perhatian. Walapun demikian, Kebijakan Energi Nasional yang dituangkan dalam Peraturan Presiden No.5 Tahun 2006 menyebutkan bahwa energi nuklir bersama-sama dengan energi bio-massa, tenaga mikrohidro, tenaga surya dan tenaga angin akan menyumbang bauran energi (energy mix) nasional pada tahun 2025 sebanyak 5%.

Saatnya Mengurangi Subsidi BBM?

Harga minyak naik mendekati 100 dolar per barel akhir-akhir ini. Berbagai kalangan mulai sibuk mengkhawatirkan dampak harga minyak tinggi ini terhadap perekonomian, dan terhadap APBN. Saat ini mulai timbul suara untuk memangkas subsidi BBM lagi. Apakah ini langkah yang tepat ?