Etika Riset

Apakah motif sebuah institut menerima riset pesanan yang khusus diarahkan untuk membenarkan sebuah persekongkolan bisnis? Tentu, imbalan materi adalah godaan primer. Dan mungkin soal itu tidak menjadi problem etis bagi lembaga-lembaga riset swasta. Tetapi bila kasus semacam itu terjadi dalam lingkungan universitas, maka soalnya menjadi sangat serius. Mengapa?

Riset adalah jantung universitas. Denyutnya adalah pertanda kehidupan akademik. Dari sinilah ilmu mengalir dan teori bertumbuh. Tetapi hal yang fundamental dalam riset bukanlah metodologi, melainkan integritas para periset. Artinya, jaminan obyektifitas sebuah riset sudah ditentukan sejak awal oleh kejujuran lembaga itu. Jadi, pada kejujuran itulah seluruh keagungan sebuah universitas tergantung. Reputasi  kampus berbanding langsung dengan moralitas lembaga riset.

Kita dapat merekonstruksi psikologi para periset ketika proposal riset persekongkolan itu diterima. Pertama, sang pemimpin riset sudah membayangkan nilai finansial dari proyek itu. Itu berarti sejak awal ia sudah memilih untuk memihak pada kepentingan pemesan riset. Berbanding langsung dengan nilai finansial itu, adalah derajat penghambaan pemimpin riset. Sebagai akademisi ia terikat pada etika obyektivitas dan sensitifitas sosial. Tetapi ia pasti telah mengesampingkan prinsip freedom of conscience itu, dan berubah menjadi pelayan kepentingan pemesan. Di sini, pemimpin riset sepenuh-penuhnya sudah menjadi seorang manipulator. Jauh sebelum riset dimulai, sang pemimpin riset itu sudah menjadi penghianat peradaban akademik.

Tetapi sebuah riset adalah produk kolektif sejumlah ahli. Itu berarti pada tahap perumusan metodologi, diskusi dan kritisisme profesional seharusnya terjadi. Kritisisme itu menyangkut otonomi moral dan keahlian teknis para periset. Nilai utama dalam tahapan ini adalah tanggung jawab akademik dan implikasi sosial. Tanggung jawab akademik berarti keterbukaan metodologis, yaitu prinsip bahwa sebuah hasil riset terbuka untuk diuji ulang oleh komunitas ilmiah. Sedangkan masalah implikasi sosial merupakan variabel etis yang melekat dalam sebuah riset kemasyarakatan, yaitu pertimbangan keadilan sosial. Karena itu,  kedudukan sosial sebuah isu dan reputasi intelektual para periset, adalah dua hal yang akan kuat mewarnai langkah-langkah riset. Pada tingkat inilah sesungguhnya mutu sebuat riset pertama kali ditentukan. Artinya, sensitifitas sosial dan akademis akan bekerja secara otonom untuk menentukan reliabilitas metodologi. Dengan filter itulah obyektifitas dipertaruhkan.  Jadi, bila ternyata hasil riset itu justeru dimanipulasi secara metodologis oleh komunitas riset, maka penghianatan akademik yang lebih luas sungguh-sungguh telah terjadi. Yaitu penyelewengan etis dan metodologis yang secara sadar  dirancang bersama-sama untuk menghianati prinsip-prinsip fundamental masyarakat ilmiah. Inilah kejahatan tertinggi seorang akademisi.

Konsekwensi kejahatan ini amat dalam. Yang utama adalah, ia memperlihatkan sistem nilai di belakang universitas. Pragmatisme dan oportunisme adalah layar pertama yang tersingkap. Manipulasi riset mencerminkan kondisi etik dan epistemik yang sangat lemah dari universitas itu. Itu berarti sangat layak untuk menduga bahwa ada banyak produk universitas yang lolos dari pengujian akademis yang sungguh-sungguh. Misalnya: sebuah disertasi hasil plagiasi, atau gelar akademik hasil jual-beli. Lebih jauh lagi, dalam skala kompetisi global, kejahatan akademik ini segera memerosotkan indeks kualitas pendidikan sebuah bangsa.

Universitas adalah komunitas etis. ”Penghianatan intelektual” adalah nama klasik bagi penyelewengan moral cendekiawan. Kini, istilah itu bukan sekedar petunjuk tentang reputasi sebuah lembaga riset, tapi juga konfirmasi perhambaan universitas pada bisnis dan kekuasaan.
RGX