Himbauan dan permohonan untuk memaafkan Soeharto seperti paduan suara yang saling sahut-menyahut. Bukan hanya datang dari keluarga, akan tetapi juga mantan pejabat di era Orde Baru, pejabat sekarang, bahkan terakhir MUI merasa perlu mengeluarkan himbauan untuk memaafkan Soeharto. “Maafkan”, “hapus semua dendam dan kita melangkah ke masa depan”, demikian kira-kira semangat dari himbauan itu. Memang bukan hal yang bermanfaat untuk berlama-lama menyimpan rasa dendam seperti yang dilakukan oleh Soeharto dan keluarga kepada lawan-lawan politik dan mantan pembantunya yang dianggap berkhianat.
Menjelang hari-hari akhir kehidupan Soeharto, sejumlah kroninya beramai-ramai berkunjung ke RSPP. Mereka meminta rakyat Indonesia untuk tetap mengenang jasa-jasa Soeharto dan memaafkan kesalahannya. Setelah Soeharto meninggal, mereka mengusung wacana tentang perlunya pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soeharto, serta mendorong keterlibatan anak-anak Soeharto dalam partai politik menjelang 2009.
Berita-berita di media massa, terutama televisi nasional pada saat mantan Presiden Soeharto mengalami sakit parah hingga pemakamannya tanggal 28 Januari lalu banyak mendapatkan sorotan dan kritik. Terutama dalam hal bagaimana media televisi dinilai mencoba membangun image Soeharto yang pahlawan, yang heroik, yang membangun bangsa dan yang berjasa. Tanpa ada kritik berarti terhadap “dosa” dan pelanggaran yang dilakukan Soeharto selama berkuasa. Kalaupun “dosa kecil” ini dianggap ada maka televisi mengajak semua rakyat Indonesia untuk memaafkan “khilaf” yang dilakukan Soeharto selama menjabat presiden.
Bahwa Soeharto sakit, kritis dan akhirnya meninggal itu sudah pasti. Betapapun berkuasa seseorang, sehebat-hebatnya kemampuan menangkal hukum, atau keluarbiasaan berkeliat dalam pasang-surut prahara politik, toh hukum alam, dalam hal ini usia uzur diikuti dengan fisik yang lemah, tak bisa ditahan juga. Dan ini yang terjadi dengan Soeharto, mantan penguasa Orde Baru yang suka makan nasi kebuli. Maka mestinya kita juga tidak perlu terkejut dalam kehebohan palsu yang diciptakan media. Mengapa? Karena bukankah sebenarnya ini merupakan krisis dan kematian biologis-alamiah yang “biasa” saja buat siapapun? Kematian yang juga akan dialami oleh tukang sayur, supir dan penata rambut di salon-salon?
Tidak dapat dipungkiri bahwa Soeharto mewariskan kepada kita sejumlah persoalan. Baik itu yang terkait dengan kasus korupsi maupun kasus pelanggaran hak asasi manusia. Demi perjalanan negara ini, kasus tersebut musti diselesaikan. Jika tidak, maka kasus Soeharto tersebut akan terus menjadi beban bagi perjalanan negara.
Selama ini, alasan utama untuk menghentikan kasus hukum Soeharto adalah sakit sehingga tidak layak diadili (unfit to trial). Tidak main-main, sakit yang diderita Soeharto seperti berkali-kali dinyatakan adalah “kerusakan otak permanen”. Dengan demikian, menjadi tidak mungkin untuk membawa Soeharto ke pengadilan.