Himbauan dan permohonan untuk memaafkan Soeharto seperti paduan suara yang saling sahut-menyahut. Bukan hanya datang dari keluarga, akan tetapi juga mantan pejabat di era Orde Baru, pejabat sekarang, bahkan terakhir MUI merasa perlu mengeluarkan himbauan untuk memaafkan Soeharto. “Maafkan”, “hapus semua dendam dan kita melangkah ke masa depan”, demikian kira-kira semangat dari himbauan itu. Memang bukan hal yang bermanfaat untuk berlama-lama menyimpan rasa dendam seperti yang dilakukan oleh Soeharto dan keluarga kepada lawan-lawan politik dan mantan pembantunya yang dianggap berkhianat.
Soeharto dan Orde Baru bukan hanya menjadi rezim pendendam, bahkan juga mengajarkan bangsa ini untuk jadi pendendam. Lihatlah bagaimana perlakuan terhadap lawan-lawan politiknya di tahun 60-an terutama PKI, kelompok kiri lain, maupun yang dituduh “kiri”. Setelah ia berkuasa pembantaian terjadi di mana-mana. Sebagian yang tidak mati harus hidup dalam penjara, kehilangan hak politik, ekonomi, sosial dan budaya. Dendam ini juga berlaku bagi anak, istri, cucu dan anggota keluarga lain yang dianggap memiliki hubungan. Oleh karena itu pada masa Orde Baru kita mengenal istilah “bersih lingkungan”, yang berarti tidak memiliki keterkaitan sama sekali dengan gerakan kiri sebelum tahun 65. Tidak lolos “bersih lingkungan” berarti hidup dalam diskriminasi berkepanjangan dan kehilangan hak sebagai warga negara.
Keberhasilan Soeharto dalam mengkonsolidasikan kekuasaan tidak terlepas dari kemampuannya yang luar biasa dalam membungkam oposisi. Soeharto sangat sulit memaafkan pembangkangan, dan oposisi bahkan yang dilakukan oleh orang-orang yang dekat dengan dirinya. Peristiwa yang menimpa beberapa mantan pejabat era Soeharto di RSPP menunjukan hal ini.
B.J. Habibie dan Harmoko adalah dua dari orang terdekat Soeharto. Tidak banyak orang yang dapat menjadi menteri dalam kabinet Soeharto sampai berkali-kali. Habibie dan Harmoko adalah dua dari sedikit orang itu. Habibie bahkan menjadi wakil presiden dan naik menggantikan Soeharto pada tangal 21 Mei 1998. Sedangkan Harmoko menjadi ketua MPR terakhir yang memilih dan mengangkat Soeharto sebagai presiden. Kedua orang inilah yang tidak dapat menemui Soeharto dan anak-anaknya saat menjenguk di RSPP.
Habibie datang pada tanggal 15 Januari 2008 sedangkan Harmoko sehari kemudian. Mereka harus menunggu lama sebelum akhirnya ditemui oleh kerabat ataupun tim dokter hanya untuk mendengar kabar bahwa mereka tidak dapat menemui mantan bossnya. Banyak yang menduga hubungan renggang itu terjadi karena di ujung gerakan reformasi, Harmoko menjadi salah satu orang yang turut mendesak Soeharto mundur (Tempo Interaktif, 16/1/2008) Sedangkan Habibie dianggap tidak cukup berusaha untuk melindungi Soeharto dan keluarga dari tuntutan gerakan reformasi.
Apakah Soeharto dan keluarga masih ngambek atas tindakan yang pernah dilakukan oleh dua orang mantan pembantu setianya? Jika melihat bagaimana Soeharto melakukan lawan-lawan politiknya nampaknya sangat mungkin masih ada dendam yang tersimpan, bahkan melibatkan anak-anaknya. Ironisnya, dendam ini dipertontonkan justru ketika keluarga dan kerabat memohon agar bangsa ini memaafkan dan tidak menyimpan dendam atas kesalahan Soeharto.