Kekacauan pertama adalah kekacauan visi ideologis, alih-alih mempertahankan prinsip-prinsip fundamental kehidupan bernegara, banyak pihak malah mulai berfikir berdasarkan perhitungan untung-rugi yang pragmatis. Pilihan politik lebih disandarkan pada persepsi publik yang dangkal dengan harapan dari persepsi itu bisa diraup dukungan. Ini kelihatan dari perlombaan puja-puji wapres dan presiden terhadap film-film populer seperti Ayat-ayat Cinta. Respon yang demikian cepat terhadap Ayat-ayat Cinta justru berbanding terbalik dengan pertimbangan yang berlarut-larut serta sikap yang sangat lemah untuk melindungi jemaat Ahmadiyah. Ditambah lagi, sikap Presiden yang belakangan melemah terhadap pemberantasan korupsi mengindikasikan mulai dibukanya gerbang kompromi terhadap elit-elit dan partai-partai yang kadernya banyak terjerat urusan ini. Apa yang dipraktekkan pemerintah memperjelas betapa pertimbangan untung-rugi politik yang ilusif lebih bermain ketimbang prinsip berbangsa dan bernegara yang berbhinneka.
Kekacauan kedua adalah kekacauan logika beroposisi dan bermitra; ketimbang sikap kritis yang rasional sambil membangun kepolitikan alternatif yang terukur, oposisi lebih banyak mengambil sikap menyerang secara serampangan. Sebagai contoh, seruan ”revolusi” apabila harga BBM naik yang digelorakan belakangan ini, selain irasional dan kurang bertanggung-jawab juga hanya menunjukkan bahwa kualitas dan kapasitas oposisi sendiri tidak lebih tinggi dari pemerintah. Oposisi, seperti halnya pemerintah, sama-sama tak berdaya di hadapan persoalan yang ada. Di pihak lain, terutama di kalangan partai-partai mitra pemerintah, perilaku politik tak terpuji juga merebak; sikap yang mulai setengah-setengah mendukung, dan kemudian melepas tanggung jawab serta menimpakan kesalahan seluruhnya ke Presiden juga mulai muncul.
Dari sini absurditas politik menjadi tak terhindarkan. Absurditas pertama muncul dalam kebingungan di sekitar presiden, yang demi melanjutkan kekuasaan di periode mendatang terdorong untuk lebih memilih bertindak mengikuti naluri kontestasi-transaksional di depan ketimbang melaksanakan sebaik-baiknya dan sesempurna mungkin apa yang menjadi cita-cita, program dan janji-janjinya di masa lalu. Paradoksnya di sini adalah: demi menang di masa depan ia malah menempuh resiko meruntuhkan dirinya yang sekarang. Di sini menang dan kalah menjadi absurd, karena mesti ditempuh dengan jalan yang sama. Absurditas kedua, muncul dalam perilaku oposisi, tradisi asal-hantam dan kecenderungan untuk melihat politik semata-mata sebagai jabatan dalam kekuasaan membuat mereka sama sekali tidak pernah mampu menyediakan alternatif kebijakan apapun. Pergantian politik dimengerti semata-mata sebagai pergantian kekuasaan, dengan asumsi bahwa kalau orangnya beda, maka watak, sifat dan karakteristik pemerintahannya juga akan sangat beda. Pengertian yang terbatas mengenai perubahan politik ini, mengakibatkan mandegnya perubahan dan transformasi serta kemajuan dalam politik. Kita berputar-putar dalam siklus elit yang itu-itu juga.
Dari sini, kita menanggung akibat yang lebih besar lagi. Yang pertama, dunia politik akan semakin terasa sumpek dan menjenuhkan. Akibatnya lagi, apatisme makin merajalela. Dalam situasi ketidakpedulian yang luas, bahaya yang lebih dahsyat mengintip diam-diam: berkembangnya ide totaliterisme dalam fasisme-agama.
Akibat kedua yang akan paling jelas terlihat di waktu dekat adalah kebingungan rakyat. Di mana untuk memilih yang terbaik di masa depan, rakyat diminta untuk melupakan ingatan akan kondisi yang sekarang; sementara masa depan dihadirkan tanpa referensi akan kenyataan politik yang tengah dihadapi. Dari sini absudirditas juga muncul; kehendak untuk mencapai kemajuan di masa depan hanya merupakan siklus yang akan menghadapkan mereka kembali kepada persoalan masa lalu yang ingin mereka tinggalkan. Dengan kata lain, apapun pilihan mereka serta siapapun yang nantinya menang, rakyat tetap tidak beranjak dari titik keterbelakangan sebelumnya. Diam-diam kita rupanya sedang memasuki kepolitikan yang nihilistik.