Seorang politisi mengutip puisi seorang pujangga. Media massa mengemasnya apik, dan dalam sekejap ia telah berada di garis depan “Kebangkitan Nasional”. Itulah hasil kerja politik pencitraan: glorifikasi! Tanpa gagasan, tanpa renungan, tanpa endapan, tanpa perjuangan, seseorang dapat melompat ke dalam ruang sejarah. Seperti sihir, pemimpin bangsa dapat lahir dari mesin ATM.
Hari-hari ini kita dihadapkan pada persoalan-persoalan bagaimana memilih suatu tatanan kehidupan bernegara, apakah yang berlandaskan keyakinan-keagamaan ataukah sekuler-rasional. Pilihan pertama tidak banyak menyisakan ruang berdebat dan berpikir, karena ukuran-ukurannya sudah ditentukan sedari awal, baik input maupun output ditetapkan secara absolut. Pilihan kedua banyak menyisakan ruang perdebatan, perbedaan pikiran, program-program yag disusun berdasarkan hitungan-ukuran rasio, dan bukan pada pertimbangan satu dasar keyakinan dogmatis, melainkan pada program-program dan kinerja sebagai ukuran keberhasilan.
“Di atas segala lapangan Tanah Air aku hidup, aku gembira. Dan dimana kakiku menginjak bumi Indonesia, di sanalah tumbuh bibit cita-cita yang kusimpan dalam dadaku.” (Mohammad Hatta) Tahun 2008, Indonesia merayakan 100 tahun kebangkitan nasional dan sepuluh tahun reformasi. Dua peristiwa itu adalah momentum yang sangat berharga bagi pembentukan keIndonesiaan. 20 Mei 1908, lahir Boedi Oetomo (BO) tumbuh bibit cita-cita mewujudkan kemerdekaan Indonesia. 90 tahun kemudian, anak-anak muda tetap mencintai negerinya dengan menumbuhkan cita-cita reformasi melawan dan menumbangkan kekuasaan otoriter Orde Baru.
Peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional dirayakan secara meriah dan kolosal. Dalam acara itu, dimaklumkan deklarasi “Indonesia Bisa”. Deklarasi “Indonesia Bisa” berisi refleksi atas perjalanan bangsa dari masa lalu sampai sekarang dan proyeksi ke masa depan. Optimisme sangat terasa dalam keseluruhan teks deklarasi.
”......menghadapi krisis energi dan pangan dunia ini, mulai sekarang dan ke depan, saya mengajak seluruh rakyat Indonesia, untuk terus meningkatkan ketahanan pangan, ketahanan energi, dan ketahanan ekonomi kita.” Petikan di atas diambil dari sambutan SBY dalam peringatan hari kebangkitan nasional 20 Mei lalu. Ada tiga hal penting yang disebut dalam kalimat tersebut yaitu soal pangan, energi, dan ekonomi yang disebut SBY sebagai tantangan berat dewasa ini. Menurut SBY, untuk menuju pada Indonesia yang aman, damai, adil, demokratis dan sejahtera kita harus mampu menghadapi ketiga tantangan tersebut.
Tepat tanggal 20 Mei 2008 telah diperingati 100 tahun kebangkitan nasional. Dilihat dari sejarahnya, kebangkitan nasional merupakan titik tonggak bangkitnya semangat untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, dalam artian mengusir penjajah.