Melanjutkan Boedi Oetomo dan Gerakan Reformasi


“Di atas segala lapangan Tanah Air aku hidup, aku gembira.

Dan dimana kakiku menginjak bumi Indonesia,

di sanalah tumbuh bibit cita-cita yang kusimpan dalam dadaku.”

(Mohammad Hatta)

Tahun 2008, Indonesia merayakan 100 tahun kebangkitan nasional dan sepuluh tahun reformasi. Dua peristiwa itu adalah momentum yang sangat berharga bagi pembentukan keIndonesiaan. 20 Mei 1908, lahir Boedi Oetomo (BO) tumbuh bibit cita-cita mewujudkan kemerdekaan Indonesia. 90 tahun kemudian, anak-anak muda tetap mencintai negerinya dengan menumbuhkan cita-cita reformasi melawan dan menumbangkan kekuasaan otoriter Orde Baru.

100 tahun telah berlalu, 10 tahun telah kita lewati. Apa yang kita peroleh dari tahun-tahun yang telah berlalu? Masihkah semangat pembaharuan yang melekat dalam dua peristiwa penting dalam sejarah Indonesia itu menyala dalam hati kita semua? Pertanyaan-pertanyaan ini patut kita renungkan untuk melakukan refleksi dan menentukan langkah apa yang akan kita pilih ke depan.

Kita mulai dengan melakukan perjalanan diri ke 100 tahun yang lalu ketika sejumlah dokter dan calon dokter di Batavia berkumpul untuk mendirikan suatu organisasi modern yang bernama Boedi Oetomo. Banyak orang menaruh harapan pada organisasi ini dan menganggapnya sebagai motor penggerak gerakan kemerdekaan di bumi Hindia Belanda. Bahkan seorang tokoh politik etis dari Belanda bernama Van Deventer menyatakan “Het wonder is geschied. Insulinde, de schone slaapster, is ontwaakt”( Suatu yang ajaib terjadi, insulinde molek yang lagi tidur, sudah bangun).

Harapan menjadi sirna ketika BO hanya memfokuskan gerakan pada peningkatan status anggotanya di dalam tatanan pemerintahan kolonial dan peningkatan kualitas kebudayaan Jawa. Dunia BO adalah dunia priyayi Jawa, para pimpinannya tak berniat untuk mendorong BO menjadi organisasi politik yang menentang kekuasaan kolonial Belanda.

Tokoh-tokoh radikal dari BO seperti Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soeryaningrat kecewa dan memilih keluar dari BO. Cipto dan Soewardi bersama dengan seorang Indo-Belanda bernama Douwes Dekker mendirikan suatu partai politik pertama di Indonesia bernama Indische Partij.

BO memang gagal menjadi organisasi yang memimpin gerakan menentang kekuasaan kolonial Belanda, tetapi BO menjadi awal mula orang belajar dan berdebat tentang banyak hal seperti pentingnya pendidikan barat bagi rakyat Hindia Belanda, penyebaran pendidikan ke seluruh lapisan masyarakat, tanpa memandang priyayi Jawa atau bukan. Muncul pemikiran tentang pentingnya pembentukan modal di kalangan menengah. Juga usulan untuk memperluas keanggotaan yang mencakup seluruh rakyat Hindia Belanda (Savitri Scherer,1985).

Apa yang telah dirintis BO dilanjutkan oleh banyak organisasi lain yang muncul belakangan. Nasionalisme Jawa dari BO diperluas menjadi nasionalisme yang mencakupi keseluruhan orang-orang di Hindia Belanda. Pendidikan yang hanya ditujukan pada priyayi Jawa diperluas menjadi pendidikan untuk seluruh rakyat bumiputera. Perjuangan memajukan kebudayaan Jawa oleh BO diperluas menjadi perjuangan politik mengusir penjajahan Belanda. Perluasan dari cita-cita yang telah ditumbuhkan oleh BO mencapai titik puncaknya pada kemerdekaan 17 Agustus 1945.

90 puluh tahun berlalu sejak berdirinya BO. Mahasiswa menghormati semangat kebangkitan nasional yang telah dirintis oleh para pendahulunya dengan menghimpun seluruh kekuatan nurani rakyat di gedung MPR/DPR pada Mei 1998. Gerakan reformasi 1998 mengakhiri jaman lama yang otoriter, dan memulai jaman baru yang demokratis.

Masih banyak kekurangan yang ada dari gerakan mahasiswa pada tahun 1998. Pada masa itu, gerakan mahasiswa agak mengambil jarak dari rakyat. Meski menyuarakan hati nurani rakyat, gerakan mahasiswa relatif terpisah dari gerakan kerakyatan. Ada juga kekurangan lainnya, yaitu tak punya agenda politik yang jelas ke depan.

Sejak 1998, apa yang kurang dari gerakan mahasiswa diperluas oleh pihak-pihak lain. Saat ini, kita menyaksikan maraknya aksi politik oleh sejumlah kelompok masyarakat. Buruh adalah salah satu kelompok masyarakat yang paling aktif menyuarakan kepentingan mereka. Reformasi politik diwujudkan melalui penyeimbangan relasi kekuasaan antara eksekutif, legislatif dan yudikatif, pilkada langsung oleh rakyat, reformasi birokrasi, otonomi daerah, dan penguatan lembaga-lembaga Negara seperti birokrasi dan komisi-komisi ad hoc seperti KPK, Komisi Ombudsman, Komisi Yudisial.

Refleksi atas peran BO dan gerakan mahasiswa 1998 bagi Indonesia, membawa kita pada kesadaran bahwa perjuangan mewujudkan Indonesia yang lebih baik adalah suatu proses yang tak kenal kata henti. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soeryaningrat harus keluar dari BO dan mendirikan organisasi politik yang lain agar semangat yang ada tidaklah pudar.

Demikian juga dengan gerakan reformasi 1998. Kelompok buruh, tani, perempuan, masyarakat adat dan kelompok masyarakat yang lain meneruskan semangat reformasi yang telah dirintis oleh mahasiswa. Perluasan gerakan ini menunjukkan suatu hasil yang positif dari reformasi yaitu bangkitnya kesadaran rakyat bahwa perubahan menuju Indonesia yang lebih baik tidak tergantung di tangan mahasiswa semata.

Perjuangan mewujudkan Indonesia yang lebih baik bukanlah suatu jalan yang mudah. Sejak BO berdiri, tak sedikit orang dan organisasi yang tak menghendaki Indonesia merdeka. Setelah merdeka, tantangan terus menghadang republik seperti pemberontakan di daerah-daerah dan pembentukan sejumlah negara bagian untuk merongrong RI.

Setelah reformasi, tantangan datang dari dua arah. Tantangan pertama berasal dari kelompok lama yang dulunya menjadi bagian tak terpisahkan dari kekuasaan Orde Baru. Kelompok lama ini telah mengadaptasi sistem yang baru tetapi terus menggerogoti proses demokrasi yang tengah berjalan. Perlawanan atas upaya penyelesaian masalah kekerasan HAM masa lalu, persekongkolan aparat negara dengan pengusaha agar pengusaha itu bebas dari jeratan hukum seperti yang terjadi dalam kasus suap Artalyta, adalah sejumlah contoh yang menunjukkan bahwa kelompok lama masih mempunyai pengaruh yang besar di Indonesia sampai saat ini.

Tantangan kedua berasal dari setiap kelompok yang meniadakan kelompok lain demi mencapai kepentingan mereka. Kelompok-kelompok ini biasanya mempunyai suatu keyakinan bahwa nilai mereka paling unggul. Pihak di luar mereka dipandang sebagai musuh yang harus dikalahkan, kalau perlu ditiadakan. Kekerasan horizontal berbasis etnik, suku, kedaerahan maupun agama yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, pembuatan dan pelaksanaan perda berbasis agama di sejumlah tempat di Indonesia adalah sejumlah contoh yang menunjukkan tantangan yang serius bagi demokratisasi di Indonesia.

Indonesia setelah 100 tahun kebangkitan nasional dan 10 tahun reformasi harus mengatasi kedua tantangan di atas. Semangat kebangkitan nasional dan reformasi patut kita lanjutkan dengan mendorong semua pihak untuk mengingat kembali dasar kebersamaan kita sebagai Indonesia.

Para dokter di Stovia telah menanam bibit nasionalisme dan kemudian pekerjaan menyiangi bibit diteruskan oleh para pendiri bangsa. Mahasiswa telah menanam kembali bibit demokrasi yang sekarang tengah dilanjutkan oleh berbagai komponen masyarakat yang cinta akan negerinya, cinta akan demokrasi, cinta akan keadilan, cinta akan kebersamaan, dan cinta akan kesetaraan.

Bibit demokrasi tak akan gagal jika kita semua melanjutkan semangat kebangkitan nasional dan reformasi yang telah ditanam di bumi Indonesia. Seperti para petani yang selalu menantang hama demi memperoleh panenan yang baik, kita harus menghadapi dan mengatasi kedua tantangan tersebut demi mewujudkan Indonesia yang lebih baik di masa mendatang.

HN-14