Ancaman Kematian Politik

Seorang politisi mengutip puisi seorang pujangga. Media massa mengemasnya apik, dan dalam sekejap ia telah berada di garis depan “Kebangkitan Nasional”. Itulah hasil kerja politik pencitraan: glorifikasi! Tanpa gagasan, tanpa renungan, tanpa endapan, tanpa perjuangan, seseorang dapat melompat ke dalam ruang sejarah. Seperti sihir, pemimpin bangsa dapat lahir dari mesin ATM.

“Kebangkitan Bangsa” memang sedang menjadi komoditas politik. Beragam tokoh berlomba menunggang momentum ini: buku diterbitkan, iklan dipajang, retorika disebar. Semuanya dengan maksud dangkal: mencapai 2009 secepat-cepatnya. Di dalam ambisi itu, terbentuklah oligarki politisi, pemilik uang, dan broker politik. Di tengah-tengah keterhimpitan ekonomi rakyat, kita dibuat kaget bahwa uang ternyata ada di mana-mana, dan ia merubah politik menjadi semata-mata urusan teknik pemasaran. Peribahasa mengatakan: bila kerbau dapat menjadi raja, maka kambing pun merasa berpeluang. Semua melaju di atas aliran uang. Memang, inilah era “matinya politik”.

Ironi itu sedang bersama kita, justru pada peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional dan 10 tahun reformasi. Politik, suatu urusan yang menyangkut kesejahteraan dan keadilan publik, kini hanya menjadi kegiatan oligarki elitis, sementara dimensi populisnya justru dikuasai oleh para demagog dan kaum absolutis. Kesulitan ekonomi memang telah ikut menggerogoti prioritas nilai dalam politik. Peredaran politik uang dan banjir politik ayat dengan mudah merebut psikologi subsistensi rakyat. Di sini kita mengalami proses kematian politik itu: Pertama, di dalam konteks politik uang, urusan nilai dan ide mengalami reifikasi total, sehingga politik berubah menjadi relasi antar benda. Kedua, dalam konteks politik ayat, politik membeku dalam kebencian pada kemajemukan. Inilah paradoks demokrasi kita sekarang ini: ada sistem politik yang terbuka, tetapi nilai-nilai politik publik justru merosot kedalam transaksi kebendaan, atau menggumpal dalam absolutisme agama. Bahaya dari tendensi ini adalah bahwa politik tidak lagi diselenggarakan dalam rangka kesosialan dan kemajemukan manusia: suatu politik tanpa landasan kewarganegaraan!

Apa sesungguhnya yang luput dari sejarah reformasi? Instalasi politik yang kita miliki sekarang agaknya masih dialiri oleh dana-dana korupsi di masa lalu. Para idealis reformasi pun, sebagian terseret dalam arus itu. Sementara media dan universitas tidak pernah menjadi pembeda nilai yang jelas dalam persoalan ini. Ketaktuntasan sejarah itu menerangkan frustrasi kita sekarang ini. Politik semakin identik dengan oportunisme.

Sesungguhnya, sejarah politik suatu bangsa adalah endapan keyakinan yang sudah diuji di dalam perkelahian hidup-mati. Penaklukan dan perlawanan memberi jiwa pada persaudaraan dan keadilan. Politik yang lahir dengan cara itu, mengajarkan penghargaan pada kebebasan dan penghormatan pada kemajemukan. Dari sinilah etika politik tumbuh. Lintasan ini mungkin belum selesai kita tempuh, sehingga 100 tahun Kebangkitan Nasional, dan 10 tahun reformasi cuma terasa sebagai pesimisme terhadap kemajuan. Tetapi ketaktuntasan sejarah, sekaligus menerangkan situasi kritis itu, dan urgensi penyelesaian. Artinya, ada yang harus dibersihkan, ada yang harus diluruskan. Kita dapat mulai dari sini: satu abad Kebangkitan Nasional dan satu dekade Reformasi, hendaknya dimaknai sebagai upaya mengembalikan politik kedalam kemerdekaan jiwa warganegara. Dengan itu kita menghalangi kematian politik. Itulah juga hakekat yang diperjuangkan sang pujangga.

RG-02