Si Markus ini tidak jelas jenis kelaminnya, kadang ia berwujud laki-laki kadang juga perempuan. Begitu pula dengan pekerjaannya, ia bisa berganti-ganti, kadang dia menjadi pengacara, kadang panitera, suatu kali pernah menjadi pegawai di kejaksaan, kepolisian, dan di lingkungan pengadilan. Terakhir, ia diketahui sebagai pengusaha kaya dan terkenal serta berjenis kelamin perempuan yang bernama Artalyta Suryani. Artalyta ini diduga kuat adalah si Markus tersebut.
Sebelumnya, di tahun 2001, si Markus ini sempat berprofesi sebagai teman dekat Hakim Agung Syafiuddin – yang tewas ditembak anak buah Tommy Soeharto, bernama Yopie P.E. Darmono. Tahun 2006 pernah sebagai pengacara bernama Teuku Syaifuddin Popon, bersamaan dengan itu juga sebagai panitera Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Di tahun 2006 pula ia sempat bernama James Darsan Toni yang bekerja sebagai pegawai MA. Selain itu, pernah juga ditengarai sebagai pengacaranya Probosutedjo.
Meskipun tidak begitu jelas pekerjaannya, tetapi ada satu pekerjaan yang paling utama ia geluti, yaitu membuat semua orang senang, terutama mereka yang terlibat perkara, baik mereka yang sedang berurusan dengan perkara itu maupun yang mengurusnya itu sendiri. Karena jasanya, terdakwa, tergugat maupun penggugat bisa tertawa, karena dia dinyatakan tidak bersalah atau perkaranya dimenangkan. Polisi, jaksa dan hakim seperti mendapat durian runtuh, gajinya yang kecil itu mendapat tambahan dari si Markus ini. Kadang si Markus tidak cuma memberikan uang, melainkan juga barang seperti mobil dan rumah, bahkan kerap memberikan service hiburan. Apa saja yang diminta oleh polisi, jaksa atau hakim, si Markus akan selalu berusaha untuk memenuhinya. Termasuk misalnya kalau ada hakim agung yang mau main golf di China.
Jadi, Markus ini memang kurang jelas, latar belakang pendidikannya tidak melulu sarjana hukum, bisa saja sarjana ekonomi atau insisnyur, bahkan bisa juga tidak mempunyai latar pendidikan sama sekali. Tetapi yang pasti Markus ini mempunyai relasi yang luas serta pandai bergaul. Lihat saja beberapa temannya, polisi, jaksa, hakim, pengacara, sampai pejabat-pejabat lainnya cukup dekat dengan si Markus. Tidak saja pejabat kelas teri, tetapi yang agung-agung juga, baik itu agung muda maupun yang agung sekali, seperti hakim agung.
Dilihat dari perannya yang membuat ”everybody happy”, serta dari teman-temannya yang sebagian besar berasal dari mereka yang menggeluti kasus hukum, hanya ada satu pekerjaan utamanya, yaitu makelar, bukan makelar sembarang makelar, melainkan makelar kasus. Si Markus inilah yang membereskan perkara hukum, baik itu perkara perdata maupun perkara pidana. Melalui relasi yang dimilikinya, ia dapat memenuhi keinginan siapa saja yang sedang terlibat suatu perkara, mau menang atau mau dibebaskan dari jeratan sanksi pidana. Karena keahlian khususnya ini, maka biaya untuk memakai jasanya tidaklah murah, hanya orang kaya saja yang bisa memanfaatkan jasanya. Selain menyediakan dana untuk si Markus ini, pengguna jasanya harus juga menanggung semua biaya yang dikeluarkan si Markus dalam melakukan pekerjaannya. Sebagai contoh, belakangan ini diketahui bahwa si Markus ini membutuhkan 660,000 dollar, atau sekitar Rp 6 Miliar untuk menutup perkara BLBI. Uang sebegitu banyak itu baru untuk para jaksanya saja, belum lagi untuk teman-temannya yang lain, misalnya di DPR atau di Mahkamah Agung. Dengan demikian, semua orang menjadi senang.
Sesungguhnya, tidak semua orang senang dengan pekerjaan Markus tersebut, hanya orang yang serakah dan ingin kaya mendadak saja yang merasa senang dengan kehadiran Markus, atau mereka yang tidak ingin dipenjara atau tidak ingin miskin mendadak. Di samping kebahagian yang dihadirkannya, si Markus juga mendatangkan kesedihan yang luar biasa. Si Markus menjadi perusak, perusak sistem peradilan. Bagi orang yang peduli dengan pengadilan yang bersih dan jujur, si Markus ini dianggap najis. Pekerjaannya telah mengotori kesucian lembaga peradilan. Markus dan teman-temannya barat parasit, ia menggerogoti dan semakin menghancurkan lembaga peradilan. Akibat ulah Markus dan relasi-relasinya itu keadilan tidak lagi menjadi milik semua orang, melainkan hanya untuk si kaya. Melalui peran Markus, keadilan dapat dibeli dan hukum bisa dijungkirbalikkan. Oleh karena itu, maka si Markus patut dikutuk dan dicaci maki, bahkan dimusnahkan sama sekali.
Kehadiran sosok Markus ini telah membuktikan adanya transaksi jual-beli kasus dalam proses peradilan. Logika sederhananya, tidak akan ada makelar kalau tidak ada praktek jual-beli. Kenyataannya, polisi, jaksa dan hakim telah menjadi pedagang, mendagangkan perkara yang sedang diurusnya, dan si Markus sebagai perantaranya. Di tangan polisi dan jaksa, pasal-pasal dalam undang-undang telah mempunyai nilai jual yang tinggi. Sementara hakim, dalam membuat putusan ia ibarat koki dan putusan adalah hidangannya. Dalam membuat hidangannya, hakim melihat dulu apa pesanannya, baru kemudian meramu argumen-argumen hukumnya. Hasil ramuannya inilah yang bernilai jual tinggi. Tidak penting apakah argumen hukumnya masuk akal atau tidak, yang penting pemesannya merasa bahagia ketika mengunyah-ngunyah hidangannya.
Jadi, dapat dipahami mengapa si Markus tumbuh besar, yaitu karena polisi, jaksa, dan hakim telah berjualan. Si Markus akan semakin merajalela ketika praktek jual-beli perkara telah melembaga. Salah satu cara memusnahkan Markus ini adalah dengan menghentikan praktek jual-beli perkara itu. Ibarat lalat, si Markus hanya berkurubung dan berkembang biak di tempat kotor. Jarang sekali lalat mengerubungi sesuatu yang bersih. Berkerubungnya Markus di lembaga peradilan berarti lembaga ini sudah sangat kotor, apalagi sampai Markus berkembang biak dan beranak pinak. Oleh karena itu, bersihkan lembaga peradilan, bersihkan lembaga peradilan dari praktek jual-beli perkara, karena praktek jual-beli perkara adalah perbuatan kotor dan hina.