Kambing hitam itu bernama ketamakan. Kambing hitam yang bertanggung jawab atas keguguran lembaga penyedia jasa keuangan raksasa yang nama-namanya terkenal sangat sakti di dunia pasar modal. Berbagai lembaga keuangan tersebut sangat dikenal, bahkan bagi banyak orang yang awam tentang dunia pasar modal.
Tercatat sudah Bear Stearns, Fannie Mae and Freddie Mac, Merrill Lynch, Lehman Brothers, AIG, Morgan Stanley, Washington Mutual dan Wachovia terkapar di Amerika Serikat. Di Inggris, Northern Rock dan HBOS. Bahkan, Islandia hari-hari ini pun kelabakan menyelamatkan sektor keuangannya sampai menelpon Moskow untuk memohon pinjaman. Semua cerita yang beberapa tahun lalu dianggap tak lazim.
Banyak orang menuding perilaku tamak para pelaku pasar modal adalah biang keladi dari masalah ini. Para eksekutif pasar modal disorot dari penampilan yang mewah dan gemerlap di muka publik. Mereka dituduh tidak pernah puas dengan kemewahan yang sudah melekat di tubuh dan bisa dijangkau dengan mudah. Menurut mereka, dunia harus mengakui kesuksesan itu sebagai manifestasi puncak prestasi yang telah diraih. Prestasi inilah yang akan selalu dirayakan dengan gegap gempita pada setiap capaiannya dan yang kemudian mengilhami jutaan orang muda untuk mempelajari seluk beluk investasi. Secara pasti mereka akan turut melangkahkan kaki menapaki karir di dunia investasi perbankan.
Para eksekutif itu mengendalikan bahtera banyak perusahaan dengan skala dan pengaruh yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Skala bisnis mereka tidak terbayang bila dibandingkan dengan negara miskin, namun ternyata juga sangat besar bagi suatu negara maju sekalipun. IMF pun menjadi tidak ada apa-apanya bila modalnya dibandingkan dengan skala berbagai perusahaan-perusahaan yang dikendalikan.
Menjadi hal yang menggelitik, apakah mereka itu disetir oleh ketamakan mereka sendiri untuk menggapai kemewahan duniawi? Bagi sebagian orang, pasar modal dianggap sebagai jalan paling mujarab untuk menggapai kekayaan — baik sebagai pelaku pasar modal maupun sebagai penanam modal. Hal ini menjadi fenomena selain kesadaran bahwa mengaitkan investasi pada pasar modal menjadi fakta dunia saat ini.Tidak melakukannya berarti menunjukkan kebodohan dan dianggap ketinggalan jaman.
Belakangan ini kita juga semakin akrab dengan para pemasar keuangan yang menawarkan berbagai produk keuangan yang bisa mewujudkan impian dengan lebih cepat. Bagi masyarakat Amerika, adanya tawaran kredit yang gencar menjadi jembatan penyambung impian untuk memiliki rumah lebih besar. Bagi berbagai lembaga keuangan dunia, pasar keuangan yang dinamis bisa menjadi tumpuan untuk menggapai return di saat pertumbuhan sektor real melambat karena kalah bersaing dengan Cina. Tidak mau ketinggalan, masyarakat Indonesia pun mengikuti tren keuangan ini dengan memiliki kartu kredit dan mengajukan kredit tanpa agunan untuk berbagai keperluan seperti pernikahan, perjalanan ziarah, maupun kendaraan bermotor.
Prestasi para pelaku pasar modal itu laksana oase di padang gurun. Pasar modal menyediakan nafas segar di tengah ancaman kelambatan pertumbuhan perekonomian global terutama sejak tahun 1990an yang menghantui banyak negara. Sehingga tidaklah mengherankan jika banyak negara bertumpu pada pasar modal sebagai sektor yang tetap tumbuh ketika sektor manufaktur kehilangan daya saing.
Sayangnya, banyak orang yang lupa pada hal fundamental pergerakan pasar modal, yaitu spekulasi. Terlintas debat klasik antara John Maynard Keynes dengan para koleganya dari AS ketika mereka sedang sibuk-sibuknya merumuskan kelembagaan IMF pada tahun 1943-1944. Para ekonom AS berpendapat bahwa spekulasi adalah perilaku alamiah manusia dan oleh karena itu segala upaya untuk mencegah aliran modal yang menghambat spekulasi — termasuk capital control — bertentangan dengan sifat alamiah manusia tersebut. Dan karena itu pula maka rezim moneter internasional tidak boleh menghambatnya. Pada akhirnya tercatat bahwa posisi ekonom AS yang unggul, di mana peran regulasi IMF menjadi tidak terlalu mengemuka.
Dimensi lain pasar modal ialah peranan inovasi yang sentral. Inovasi lah yang membuat berbagai produk keuangan menjadi lebih beragam, lebih menarik dan seolah lebih terjangkau. Joseph Stiglitz menuding bahwa inovasi akan menjadi sumber malapetaka. Selama ini inovasi menjadi kata kunci dari kebebasan berpikir di alam demokratis, dan berbagai upaya untuk mengaturnya dituding sebagai pemberangusan. Bagi Stiglitz, masalahnya bukan pada inovasinya, melainkan pada pembiaran semua inovasi, tanpa memilah mana yang akan membuat ekonomi lebih kuat. Tindakan ini sama saja dengan bunuh diri.
Hal yang tidak bisa dilupakan ialah kecerobohan para pelaku pasar modal. Kecerobohan menjadi kata kunci ketika orang menemukan bahwa krisis Asia Timur pada tahun 1997 didorong oleh investasi portofolio yang tidak bermutu, tanpa pernah dimonitor tingkat risikonya. Nick Leeson yang pernah dihukum selama 6,5 tahun di Singapura karena membangkrutkan Barrings Bank pada tahun 1995, mengungkapkan bahwa ia ditawari 5 kartu kredit hanya dalam waktu seminggu sejak kedatangannya ke Inggris, padahal saat itu ia tengah menanggung hutang sebesar £100 juta.
Keinginan menggapai kemewahan secara instan, pemasaran yang agresif, menganggap enteng kekuatan spekulasi, keengganan memilah inovasi, serta kecerobohan, menjadi elemen-elemen yang paduannya begitu dahsyat dalam menggiring pasar modal pada kondisi sekarang ini. Sementara, sebagian orang menganggap ketamakan sebagai biang keladinya. Namun di sisi lain kita tidak bisa menutup mata akan adanya kekacauan sistemik dan tidak adanya upaya untuk melakukan koreksi.
Kekacauan sistemik tidak bisa dilepaskan dari amnesia dalam pembentukan kebijakan ekonomi. Depresi Besar tahun 1929 tidak bisa dilepaskan dari elemen-elemen pembuat krisis yang sama: pacuan target, menggampangkan spekulasi, inovasi yang sembrono dan kecerobohan. Ketika dunia sedang mengalami kepahitan dari dampak Depresi Besar, tidak banyak yang menentang berbagai resep aliran modal yang lebih ketat, kewajiban untuk mengaitkan aliran modal dengan investasi real, serta renegosiasi kepemilikan modal dengan keterlibatan publik yang meningkat. Namun begitu ekonomi membaik, para pengambil kebijakan perekonomian seolah melupakan resep-resep tersebut. Upaya-upaya mengatur pasar malah dituding mengkhianati semangat kebebasan.
Sekarang pun, negara-negara pusat pasar modal dunia sedang giat-giatnya melakukan intervensi untuk membenahi pasar modalnya. Bahkan nasionalisasi, yang selama ini merupakan kata yang sering diasosiasikan dengan pemimpin negara berkembang yang bandel seperti Bung Karno, Hugo Chavez dan Evo Morales pun menjadi modal yang diambil oleh George Bush Jr. dan berbagai negara maju di Eropa. Walaupun sekilas sepertinya ada perubahan mendasar, penulis sendiri yakin bahwa itu merupakan intervensi sementara, dan aliran modal yang bebas akan diambil kembali sebagai rezim dominan begitu ekonomi sudah membaik.
Kesemrawutan berpikir yang melahirkan kekacauan sistemik yang berulang terus memberikan peluang ketamakan untuk muncul di permukaan. Namun ketamakan itu bukan merupakan hal yang muncul sendiri dari perilaku individual para pelaku pasar modal. Ketamakan diberikan kesempatan leluasa dalam pasar modal yang terlalu bebas tanpa memperhatikan efek distribusi kesejahteraan sosial, peran pengaturan negara, serta mendikte negara berkembang. Hal yang diperlukan memang bukan saja menuding tataran perilaku, tapi perbaikan sistemik dari cara kita menangani dan memandang kapitalisme.
Salah satu pilarnya ialah manajemen resiko. Selama ini manajemen resiko diajarkan dengan aktif dalam berbagai kurikulum ekonomi, menjadi mata kuliah wajib untuk konsentrasi manajemen keuangan di sekolah bisnis dan sertifikasi analis keuangan, serta menjadi pelajaran wajib bagi para eksekutif yang mengikuti kursus-kursus tingkat lanjut. Namun sayangnya, mengelola resiko lebih banyak diajarkan tanpa pernah diterapkan secara serius.
Pilar lain yang tidak kalah pentingnya ialah insentif para pelaku pasar modal yang lebih dihubungkan dengan pertumbuhan keuangan yang agresif ketimbang pada keamanan pengembangan produk maupun perusahaan investasi yang dikelolanya. Tidaklah mengherankan jika kemudian mereka menabrak rambu-rambu resiko karena resiko bukan merupakan pertimbangan, melainkan bagian dari kondisi alamiah spekulasi: resiko rendah maka jangan berharap keuntungan rendah.
Dari kedua pilar inilah praktik -praktik sembrono terburai keluar dari kerangkengnya. Perbankan yang secara tradisional merupakan institusi paling hati-hati dalam mengelola resiko, menyimpan aset beresiko di luar neraca dengan menjual pinjaman mereka ke pasar modal dan melakukan hedge resiko yang ada melalui swap kredit macet. Inovasi keuangan telah berkembang menjadi sangat kompleks dan semakin sulit diikuti dan dibedah oleh banyak pihak. Singkatnya, inovasi keuangan menjadi tidak transparan lagi.
Produk-produk derivatif yang kompleks itu kemudian dikaitkan dengan berbagai surat berharga lainnya dari berbagai penjuru dunia, yang pada kenyataannya menjadi wahana utama bagi mewabahnya krisis finansial, di mana krisis di satu tempat bisa memicu krisis sistemik di berbagai tempat. Produk-produk derivatif itu pun tidak didukung dengan rasio kecukupan modal yang memadai, sehingga ketika terjadi default akan memicu penilaian ulang yang berujung pada devaluasi nilai yang cukup besar, bahkan terpaksa dihapus-bukukan sehingga akan memicu kepanikan. Di sisi lain, regulasi yang diciptakan untuk mengatur para raksasa keuangan sepertinya tidak pernah didisain untuk mempunyai gigi.
Malangnya, praktik-praktik di atas merupakan jurus-jurus standar para eksekutif keuangan di seluruh dunia. Upaya untuk merevitalisasi ekonomi baik di tingkat nasional maupun global diperkirakan tidak bisa segera lepas dari kesetiaan doktrin-doktrin lama. Penulis memperkirakan, Barrack Obama pun tidak punya banyak pilihan dalam struktur sosial politik yang telah dibangun untuk melindungi kepentingan modal bergerak keuangan dunia. Skenario terbaik, mungkin saja selama beberapa tahun ke depan memang kita akan melihat beberapa gebrakan pada pengelolaan ekonomi dunia. Tapi bilamana keadaan dianggap sudah pulih, modal akan mendesak untuk minta kebebasan lagi bagai air bah mencari jalan menuju kesembronoan baru.