Trust


Ilmu ekonomi sudah lama meninggalkan filsafat penemunya, Adam Smith. Tegas memang dalam ajaran Smith, The Wealth of Nations, bahwa “kemakmuran” adalah hasil pengejaran kepentingan-diri (self-interest) setiap orang. Tetapi yang tersisa kini dalam ilmu itu, tinggal unsur “pengejaran kepentingan-diri”. Unsur “kemakmuran” (the wealth of nations) bukan lagi tujuan dari ilmu ekonomi. Hari-hari ini, ilmu ekonomi semakin menghindar dari asal-usul politiknya (yang sejak Aristoteles dimaksudkan sebagai ilmu untuk melayani polis), dan menyibukkan diri sepenuhnya dalam laboratorium komputasi.

Dalam obsesinya untuk menjadi “pasti”, ilmu ekonomi terus mereduksi dirinya ke dalam rumus-rumus matematik, sambil menyingkirkan semakin banyak variabel ke dalam kotak ceteris paribus. Dengan alasan ini, kegagalan pencapaian kemakmuran akan dibebankan pada pemerintah. Ilmu ekonomi bukan lagi ilmu yang dioperasikan untuk mewujudkan well being masyarakat, tetapi menjadi kegiatan yang amat teknis untuk mencari cara mengetahui apa yang disebut “perilaku ekonomi”, dan menghitung “utilitas”nya.

Perilaku ekonomi adalah gejala yang harus dapat diukur. Kredo ini menimbulkan persoalan metodologis: haruskah ia diukur dengan cara “ilmu alam”? Apakah keputusan individu semata-mata didasarkan pada “tindakan rasional” memaksimalkan utilitasnya? Teori utilitas menganggap bahwa individu akan memaksimalkan utilitasnya semata-mata berdasarkan kalkulasi rasionalnya. Artinya, ia tidak perlu mempertimbangkan agency di luar dirinya, yaitu pelaku-pelaku ekonomi yang lain, yang juga secara individual sedang memaksimalkan utilitas masing-masing. Dengan itu diperoleh kemantapan keputusan, karena individu mencapai kepastian rasional sepenuh-penuhnya secara otonom, yaitu melalui komputasi rasionalnya sendiri. Teori ini gagal bekerja dalam kenyataan, karena kompleksitas psikologi manusia.

Sebaliknya, pada game theory, sesama agen (dalam upaya memaksimalkan utilitasnya) justru harus saling mengawasi perilaku masing-masing. Jadi, di situ sebetulnya ada ketidakpastian keputusan individu, karena kemungkinan keputusan pemain yang lain harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan si individu. Dengan kata lain, probabilitas keputusan para agen merupakan variabel yang menentukan keputusan si individu. Inilah medan ketidakpastian dalam transaksi ekonomi, yang kemudian memerlukan pengamanan melalui kontrak, asuransi dan sistem penjaminan berlapis. Mengapa pengamanan itu tidak di-ceteris-paribus-kan saja? Sebab, yang terjadi sebetulnya adalah: agen yang rasional selalu menunggu keuntungan dari keputusan irasional pemain lain. Krisis ekonomi global sekarang ini adalah hasil dari permainan ini. Ironis memang, bahwa agen yang rasional selalu berharap terjadinya irasionalitas.

Dalam The Theory of Moral Sentiments, Adam Smith sesungguhnya telah mengingatkan bahwa “kepentingan-diri” dalam aktivitas ekonomi harus diarahkan untuk “kepentingan-bersama” dalam politik. Di sinilah tuntutan etis mendahului kalkulasi ekonomis. Artinya, kebersamaan dalam politik adalah norma yang seharusnya memayungi “perilaku ekonomi”. Tangan yang tak kelihatan itu sebetulnya adalah tangan yang memegang payung normatif tersebut. Pandangan inilah yang hilang dalam sejarah perkembangan ilmu ekonomi, dengan akibat yang kita hadapi hari-hari ini: kegiatan ekonomi menjadi sepenuh-penuhnya kegiatan tanpa tujuan etis. Dengan kata lain, ekonomi — tempat di mana kebutuhan hidup manusia diselenggarakan — telah berubah menjadi tempat pemusnahan kepercayaan. Itulah sebabnya seluruh resep ekonomi yang kini diedarkan untuk memulihkan krisis global itu, akhirnya kembali pada himbauan moral untuk berpegang pada “trust”.

RGX