PENGANTAR KULIAH (Rocky Gerung)


“Ok, terima kasih, Saras. Rekan-rekan, kelihatannya suasana agak tegang dan syahdu. Selamat datang di forum ini. Forum ini diselenggarakan oleh Perhimpunan Pendidikan Demokrasi, singkatannya: P2D.

Saya akan terangkan beberapa hal sebelum Ibu Sri Mulyani memberi kuliah. Pertama adalah tema public lecture ini. Kami tergoda menanggapi situasi akhir-akhir ini. Indonesia mengalami defisit dalam soal public ethics dan karena itu banyak public policy tidak bisa wujudkan. Kita tahu akhir-akhir ini ada peristiwa – yang separuh dihujat oleh media massa, tapi dibanggakan oleh para penyokongnya– yaitu pembentukan Koalisi Besar. Tentu kuliah ini tidak bisa lepas dari suasana kekinian itu. Yaitu kita tahu bahwa politik Indonesia hari-hari ini sebetulnya tidak diatur, tidak diputuskan, di dalam lembaga-lembaga formil. Tapi diputuskan di balik sistem formil, yaitu melalui “politik kartel”. Jadi, jelas ada persoalan dengan sistem politik kita: Bila keputusan itu, kebijakan itu, diputuskan di luar sistem resmi maka yang bekerja adalah transaksi-transaksi kekuasaan di dalam pasar gelap; ‘black market of power’.

Jadi ini soalnya. Kelihatannya soal kartel politik ini sebetulnya hanyalah adalah urusan dua-tiga orang, bahkan urusan dua orang laki-laki. Jadi semacam ‘skandal dua orang laki-laki’ yang saling ingin menagih utang piutang politik 2004-2009. Korbannya adalah seorang perempuan. Kita tidak mengerti mengapa peristiwa tragis ini terjadi. Tetapi kelihatannya publik senang dengan ‘pengorbanan’ itu. Bahkan ada amok dimana-mana. Politisi mengamuk, dan satu bulan penuh kita nonton amok politik itu di DPR. Media massa juga mengamuk, dan pakar juga ikut-ikutan mengamuk. Jadi kelihatannya politik Indonesia tidak diucapkan dengan akal pikiran, tetapi dengan kemarahan. Dan seperti saudara tahu, ‘amok’ itu adalah suatu entry dalam bahasa Inggris yang disumbangkan oleh orang Indonesia, –ada dua sebenarnya sumbangan orang Indonesia kedalam dictionary Inggris: satu ‘amok’ dan satu lagi ‘Orang Utan’. Saya tidak mengerti mengapa ada defisit akal sehat dalam politik kita, karena itu kita ingin agar supaya tema ini dibicarakan.

Masalahnya adalah apakah perempuan itu seorang neolib? Kita tahu bahwa sistem kita adalah sistem presidensiil. Artinya ideologi kabinet adalah ideologi presiden. Jadi agak aneh kalau menteri punya ideologi lain dari ideologi presiden. Dan gegap gempita soal diskusi neolib ini, enggak pernah selesai, karena wartawan juga ikut larut dalam upaya provokasi itu. Padahal pensil yang dipakai oleh sang wartawan untuk menuliskan kata ‘neolib’, itu disubsidi negara; mana ada neolib bila ballpoint pun disubsidi negara? Tapi kelihatannya pers tidak cukup awas untuk menjadi semacam moderator akal sehat dalam debat politik itu. Kita butuh ‘jurnalis publik’, bukan ‘jurnalis privat’. ‘Jurnalis publik’ harus terus mengucapkan akal sehat, berupaya untuk mencerdaskan bangsa, dan bukan mengedarkan jenis kebodohan dangkal semacam itu.

Jadi, kira-kira di dalam tema itu kuliah ini akan diselenggarakan. Tentang penyelenggara: P2D, lembaga ini adalah sebuah institut studi, di dalamnya ada kurikulum, dan di P2D ada dua guru besar: satu namanya Rahman Tolleng, dia mengajar mata kuliah ‘politik akal sehat’. Isinya adalah semacam upaya untuk membentengi bangsa ini dari politik ‘akal miring’ yang kelihatannya sekarang sedang mendominasi politik Indonesia. Politik akal miring ini punya dampak sistemik yang luar biasa –Gedung DPR itu sampai 7 derajat miringnya. Jadi, saudara-saudara: P2D bukan organisasi liar tapi organisasi yang berupaya ‘merawat akal sehat publik’. Professor yang kedua, Robertus Robet. Dia mengajar mata kuliah ‘politics of desire’. Agak aneh terdengar; ‘politik hasrat’, yaitu ‘hasrat memelihara politik di dalam jalur keadilan; hasrat untuk memastikan bahwa politik hanya diucapkan untuk menempuh keadilan, dan demi itu P2D menyelenggarakan kegiatan hari ini. Tentu ada pertanyaan dari pers: “Siapa aktor finansial dari forum ini?” –kalau aktor intelektualnya jelas, dua professor tadi. Ada banyak orang ikut menyelenggarakan lecture hari ini. Penyandang dana dari forum ini adalah semua pembayar pajak; dari yang pajaknya sangat besar sampai mereka yang sangat terpaksa harus membayar pajak. Yang mengundang –dalam daftar undangan ada aktivis, ada jurnalis, ada cendekiawan, ada feminis– dan semua mereka punya pandangan yang relatif ‘kiri’. Jadi jelas ini bukan ‘munas neolib’! Juga bukan semacam ‘dzikir bersama Sri Mulyani’ –Enggak! Ini adalah forum akademis, forum untuk menandingi skandal dua laki-laki tadi. Laki-laki yang satu berbadan besar bernyali kecil, laki-laki yang lain, berbadan kecil bernyali liar.

Ok, saudara-saudara, yang hendak kita selenggarakan adalah itu –dan saya tentu tidak ingin meraba-raba apa yang ada di pikiran Ibu Sri Mulyani– tapi yang jelas adalah bahwa forum ini bukan forum perpisahan dengan Sri Mulyani – jadi tidak boleh ada sedu-sedan, tangis dan duka. Forum ini bukan untuk melepas Sri Mulyani, tapi untuk memastikan ia kembali. Why, kenapa? This is a country of opportunities but being managed by the opportunist. Jadi, kita ingin ada semacam alternatif untuk mengucapkan keadilan dan demi itu kita menyelenggarakan forum ini.

Ada pepatah mengatakan: “Kebun bunga bisa dibakar oleh para perompak, tapi tidak ada seorangpun yang bisa menunda tibanya musim semi. Kita ingin kalau Sri Mulyani kembali, ada musim semi untuk dia; You are our beautiful blessing.

Terima kasih.

RGX