Sebagai pengajar Filsafat, setiap saya mendengar ceramah Ibu Sri Mulyani, saya teringat suatu cerita yang dipopulerkan Plato, dalam karyanya “The Republic”. Plato bercerita tentang sebuah gua serta para tahanan penghuninya: Salah seorang tahanan berhasil melarikan diri. Di luar gua ia melihat bahwa alam itu tidak terbatas, tidak hanya sebatas gua dan sinar yang menerangi gua sesungguhnya bersumber dari matahari. Sungguh kenyataan yang sangat berbeda dengan hidup di dalam gua yang gelap dan sempit. Sang tahanan bermaksud memberi tahu sesama penghuni gua perihal realitas kehidupan di luar gua. Namun apa yang terjadi? Ia justru dituduh pembohong dan dibunuh.
Plato mencoba menyampaikan bahwa tidak mudah bagi seorang tokoh untuk menyatakan kebenaran; Kebenaran menyebabkan resiko, bahaya, pengasingan hingga kematian; Hari ini seorang Sri Mulyani mengambil resiko untuk menyampaikan kebenaran di tengah pemerintahan yang korup. Ia mengambil posisi dan mempertanggung jawabkan posisi tersebut dengan anggun dan penuh integritas. Malam ini kita akan mengikuti kuliah umum beliau dengan harapan kuliah ini dapat mencerahkan dan memberanikan kita untuk menyuarakan kebenaran.
Sebagai pembuka acara, kami panggilkan paduan suara Universitas Indonesia, Paragita, yang akan melatunkan lagu Rayuan Pulau Kelapa dan Nyiur Hijau.
Selanjutnya saya undang penyelenggara acara, Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) untuk menyampaikan kata sambutan. Saya persilakan ‘The One and Only, The Irreplaceable’, Bapak Rocky Gerung”.